Nama
saya Afif Fathur Reza, seorang mahasiswa Program Studi Diploma (III) Statistika
Politeknik Statiska STIS. Kali ini saya akan bercerita tentang apa yang saya
alami sepanjang perkuliahan jarak jauh yang diterapkan kampus selama wabah
virus corona
Singkatnya,
sebuah Wabah penyakit menyerang Indonesia pada awal maret 2020 akibat sebuah virus.
Penyakit tersebut bernama COVID-19 akibat virus corona. Awalnya Nampak biasa
saja, tidak ada yang berubah, seluruh kegiatan perkuliahan Nampak berjalan
seperti biasanya. Namun pada 2 maret 2020, dua warga Indonesia terpapar virus
tersebut. Indonesia seperti mendapatkan peringatan akan datangnya sebuah wabah
yang sudah lebih dulu mewabah di Negara lain
Benar
saja, kurva penyebaran virus tersebut di Indonesia bergerak secara
eksponensial, berkembang mulai 06 Maret yang bertambah dua kasus menjadi 4
kasus, kemudian pada 09 maret kasus bertambah menjadi 19, kemudian pada 11 Maret
menjadi 34 kasus, pada 13 maret menjadi 69 kasus dan pada 16 Maret 2020, jumlah
kasus positif COVID-19 mencapai 134 orang.
Penularan virus yang sangat mudah ini, membuat pemerintah
DKI Jakarta khawatir dan segera menerapkan berbagai kebijakan untuk mencegah
penularan virus ini. Salah satu kebijakan yang pertama yang dilakukan Pemprov
DKI Jakarta adalah dengan menurunkan mobilitas masyarakat dengan cara
pembelajaran di sekolah ditiadakan dan diganti dengan pembelajaran di rumah
masing-masing.
Politeknik Statistika STIS sangat mendukung kebijakan
pemerintah ini, mengingat sudah banyak sekali contoh-contoh negara lain yang
sedang kacau keadaannya dikarenakan virus berbahaya ini. Pada tanggal 16 Maret
2020, Politeknik Statistika STIS mengeluarkan kebijakan mitigasi resiko
penyebaran Pandemi Virus Corona dengan meliburkan perkuliahan selama satu pekan
dan pekan berikutnya pembelajaran di kampus diganti menjadi pembelajaran via
online atau yang diistilahkan sebagai Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Saat kebijakan tersebut keluar, sebagian besar mahasiswa
merasa sangat senang karena tidak perlu pergi ke kampus selama dua pekan. Tidak
sedikit mahasiswa yang pulang ke kampung halaman dikarenakan kebijakan ini. Termasuk
saya yang pulang akibat panggilan dari orang tua dan prediksi bahwa virus ini
tidak akan berakhir dalam dua minggu dan rasa khawatir karena kota Jakarta
merupakan pusat penyebaran virus tersebut.
Hari demi hari berlalu. Pembelajaran Jarak Jauh dimulai.
Pembelajaran Jarak Jauh yang dibayangkan adalah kuliah sambil santai, sambil
ngemil, sambil ngeteh, sambil tidur-tiduran, tidak perlu lelah untuk ke kampus,
dll. Tetapi kenyataannya tidak seperti yang kita bayangkan. Semua berjalan dengan
sangat melelahkan.
Dimulai
dari hari pertama yang walau ‘hanya’ dua sesi perkuliahan dengan mata kuliah
yang tidak terlalu sulit, kita serasa seperti kuliah dengan jam penuh. Hal tersebut
akibat tugas yang banyak dan memaksa kita mengerjakannya dengan tepat waktu
sesuai dengan batas akhir pengumpulan yaitu jam 16.00 WIB.
Kemudian pada hari kedua saya merasakan betapa beratnya
perkuliahan jarak jauh dengan sesi perkuliahan yang penuh dan mata kuliah yang
cukup sulit. Kendala kedua dari perkuliahan jarak jauh ini adalah kita harus
berusaha keras mempelajari materi yang ada pada bahan ajar tanpa penjelasan
langsung dari dosen dan teman-teman. Bagi saya yang mempunyai cara belajar
dengan audio visual, hal tersebut sangat-sangat berat bagi saya, sampai memasuki
minggu ke-tiga perkuliahan ini, cukup banyak materi yang harus saya ulang-ulang
untuk mempelajarinya seperti mata kuliah statistika inferensia dan Analisis
Regresi. Dua mata kuliah yang semenjak perkuliahan jarak jauh ini dimulai, Cuma
sedikit materinya yang saya pahami dan belum sampai memahami esensi dan konsep
dasar materi tersebut.
Walaupun
begitu, perkuliahan jarak jauh tidak sepenuhnya buruk. Kedekatan saya dengan
keluarga cukup membayar kelelahan saya akibat perkuliahan jarak jauh. Saya yang
tidak pulang semenjak masuk Politeknik Statistika STIS akhirnya dapat kembali
menginjakkan kaki di rumah tercinta saya dan melepas kerinduan dengan keluarga
saya. Setidaknya saya lebih punya banyak quality time dengan keluarga saya yang
juga menjalani semua kegiatannya dirumah. Semua tampak istimewa saat kita
kumpul Bersama 😊
Terakhir,
saya berdoa semoga wabah penyakit ini segera berakhir agar semua dapat berjalan
normal kembali. Semoga angka penyebaran dan kematian dapat ditekan. Aamiin…..
*Sekian…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar